RSS

Saturday, 25 June 2016

Bicara si Panda di sebalik hutan bamboo

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ



Assalamualai'kum WaRahmatullahi WaBarakatuh.

Di dalam sebuah town yang bernama Gunung Berbentuk *mind the lame name, pasal blogger inda lagi terfikir nama yang teluan fancy. Hehe* yang indalah berapa hingar, kebahangan cuacanya Subhanallah membuatkan wajahku yang anang inda berapa kan manith, mencuka. Matham.  Manik-manik di wajah ku menyerikan lagi definisi “masam” disana. Berulang-ulang tisu kering menjadi mangsa tong sampah pasal tisu tersebut no longer kering, obviously. Okeh, enuf with the gibberish intro. *and probably a bit eww. Sila muntah di tandas* Jangan marah para pemirsa (sp.?).  Inni soim…

“Why aren’t you eating?,” tanya seorang teman dengan ekspresi muka hairan. Mungkin hairan kenapa dari tadinya sekumpulan akhawat tersebut memandang makanan dengan pandangan yang rawan tanpa ada effort untuk menjamahnya padahal jarak makanan tersebut tidaklah sejauh mana.

“Oh, no. We cannot eat now. We are fasting. Please do enjoy your meal, mate.” Jawab seorang ukhti dalam kumpulan tersebut dengan nada yang sopan.

“Then do you guys want something to drink? There’s ocha (tea) over there.” Tanyanya lagi.
“It’s okay, we are still fasting. We cannot drink,” jawab another ukhti dengan tenang.

“What? Not even water?” ekspresi muka tidak percaya.

“Not even water.” Senyum si ukhti dek kelucuan melihat reaksi temannya itu.

Okay, first, kisah-kisah yang ada dalam my humble article kali ani tidak ada kena mengena dengan yang hidup ataupun yang telah tiada. Kalau ada persamaan pada situasi yang pernah para pembaca lalui, jujur blogger inda pernah stalk para pembaca. Aku sebenarnya ada life consists of: makan, tidur, main game, merepek dan ahirnya tidur lagi. *nampak betapa ‘no life’ nya blogger seorang ani* Tidak ada masa untuk skodeng orang lain. Hehe.

Peliknya lah bila kitani berada di negeri orang, barulah kitani tau kan merefleksi ibadah kitani. Kenapa aku buat ani ah? Kenapa perlu aku berpuasa ah? Kenapa aku perlu menutup aurat ah? Dan the ‘kenapa’-s lists goes on. Initially, apa sebabnya timbulnya semua soalan ani? Hmmmm… Sebabnya almost everytime teman-teman kitani yang bukan beragama Islam bertanya. Kitani sebagai Muslim, it is our duty to explain dengan ayat yang mudah difahami dan mudah dicerna. It doesn’t matter if kitani nada title ostad, ostazah, imam young, daie hensem dan sebagainya, we can at least explain to our friends the things yang kitani faham. It’s okay if kitani inda dapat berhujah dengan dalil-dalil hadith and Al-Qur’an, no worries, kawan. Remember…

Rasullullah s.a.w. bersabda:

Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” – Hadith Riwayat Bukhari.

This is what makes Islam a sweet religion. *tiba-tiba*I bet selalu kitani nampak hadith yang satu ani. This is definitely a green light from our love one! Yeay! MasyaaAllah, I believe I can fly now dan sebarkan this chenta se-entero dunia~~ *but still, kawan, make sure apa yang kitani sampaikan atu sahih dan tepat.* Kalau ragu, tanya pada yang ‘arif. I know some of us dibesarkan dalam suasana where penerapan agama hanya dilakukan masa sekulah ugama. Habis peperiksaan sekulah ugama, apa yang pernah tani belajar atu mereput ditelan masa. Pasal bila ilmu inda diamalkan, pandailah ia angkat batis and pergi keluar dari otak. Okey, apa sebenarnya point yang ku cuba sampaikan… err… tuut tuut. INTERMISSION. Krik, krik, krik.

Then satu masa bila kitani mula kan tazkirah sedikit, orang sekeliling kitani melihat kitani dengan ekspresi, ‘eh, sok suci kamuh. Ngak usah jadi pak imam loh’, ‘e-eh, bajet alim. Tiba-tiba berkhutbah pulak. Semalam bukan main lagi minum-minum sampai high. Ingat orang tak tau ke, kopi tuu banyak caffeine?’ *eh. Jangan fikir yang bukan-bukan eh*. Jangan peduli apa orang cakap. Indakan selamanya kita biarkan bila nampak sesuatu yang salah atu bermaharajalela? Please lah, jangan jadi ignorant, sahabat! Now we are living in a world where the rights are the wrong, and the wrongs are the right. Astaghfirullah Al-‘adzhiim. *Rawan hati bila memikirkan hakikat ani*

“Why are you fasting?” tanya Dean pada Fatah.

“My God wants to teach me the value of life…” jawab Fatah dengan senyuman.

“Come on, man. You know I don’t do literature. Straight to the point!”

“Hahaha. Alright. Here are some points that I think, probably, easy to understand. First, through fasting I will learn to tame my nafs (you know, lust, desire). Cause sometimes when you keep on fulfilling your nafs, you… simultaneously deteriorating your body. In other words, I’m giving myself a rest. Secondly, it teaches me empathy. I mean, look around the world, starvation, famine is everywhere. Think about how they’d feel when they don’t have anything to eat? How hard life is when you have nothing? And lastly, to please my God. Taqwa, we call it. I mean when we love someone, we will devote ourselves to that person, right? Not wanting to displease them, wanting to do anything for them. Give commitment to them. These things apply to us, Muslims as well. We love our God, you see.” Jawab Fatah dengan tenang. Dean mengangguk faham dengan jawapan sahabatnya itu. 

Matahari musim panas sekejap lagi menenggelamkan dirinya di horizon sana. Angin sepoi-sepoi bahasa menemani perjalanan mereka menuju ke satu-satunya restoran halal di bandar tersebut.

The end.

Eh, eh. Tapi post kali ani balum habis lagi. *almost* There are million things yang kadang-kadang menghalang kitani untuk mengeluarkan ilmu kitani. Salah satu reasonnya, yalah perkara di atas where people have this prasangka pada kitani. However, ani bukan sebagai satu penghalang, in fact, antara langkah pertama tani untuk berubah is tazkirah. Kadang-kadang, kitani mudah ingat perkara yang kita sampaikan arah orang berbanding perkara yang kitani simpan then biar berjaruk di ruangan minda. Therefore never afraid to mengingati orang mana yang patut. Pasal masa atu jualah kitani sebenarnya mengingati diri kitani. Kan ilmu bila sharing is caring tapi bila you no longer sharing is kering tia. Geddit? *okay, blogger ada lame sedikit. Eh, lame banyaklah*Ish, ish, ish.

Ah, satu lagi. Bercakap mengenai tajuk post kali ani macam inda ngam dengan isi kandungan post. Memang inda ngam pun, pasal blogger beberapa ketika ani nada idea apa yang kan di post. Let’s make an analogi lah, aku lihat panda adalah binatang yang introvert *perkara ani subjektif*. Kenapa? Pasal kecintaan-nya pada bamboo and jua durang ani sangat misterius in a rare way. *okay, apakan, what am I saying, really?* Panda sendiri bukan spesis yang agresif *that’s why durang ani cool!* Tapi bila panda rasa irritated, jangan heran bila that introvert menjadi ganas. Jadinya apa kaitan-nya dengan post kali ani? Well, nada kaitan. *habislah, kana ladai tia karang ni blogger ani* *pecut lari mengalahkan Bolt Hussin (sp.?)*

Akhir kalam,

“Maka Maha Tinggi Allah, raja yang sebenar-benarnya dan jangan kamu tergesa-gesa membaca Al-Qur’an sebelum selesai diwahyukan kepadamu, dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (20:114)

Dalam menuntut ilmu, don’t rush. Take our time to absorb everything. Cause yang kitani cari is keberkatan sesuatu ilmu atu as we learn it. Dan bila rasanya susah amat kan di digest, minta pertolongan-Nya. In shaa Allah, all is well and He will guide us through those lonely dark night sky. Look at the stars, the moon, another signs of His guidance and love, aye. *wink*

RrJ  

Photo credits: owner

0 comments:

Post a Comment