بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Assalamualai'kum WaRahmatullahi
WaBarakatuh.
Datang-datang, timbul entah dari
arah mana, tiba-tiba update blog, apa yang blogger buat? Taip puisi je mampu.
Astaga~ Sebenarnya, kalau blogger puts a
lot of effort to write everything yang cross otak ani, banyaknya Subhanallah~ Cuma adalah sedikit ketidakmampuan dari segi pembahagian
masa yang sekarang ani flow-nya amatlah singkat dan semakin hari blogger semakin
tua. So efficiency membuat keraja makin kurang peratusannya *Uhuk2, alasan ini
semua poyo!* HASHTAGtanda2penuaan HASHTAGfaktoralam
Ada kisah sebenarnya behind puisi
kali ani and why I decided to write and post this one is probably because of…
adalah Allahu ‘Alam. Alhamdulillah ‘alaa kulli haal. Just a vague idea lah*not
to disappoint my beloved readers, edeh* the event behind this puisi was
somewhat unsettling, ada mild-bittersweet tapi all and all ‘it’ helped me a
lot. Help me to ‘see’ me, in fact. Guess, whatever He aturkan for the past few
months gave me these chills through my spine. In a good way though. May Allah
protect our hearts and bless us with love that leads to His mercy and for His
sake. Aamiin. :D
“Bukan seindah kayangan,
Wujudnya umpama jernih titik
embun cuma,
Adapun sungainya sepi dengan
refleksi langit,
Membiru bila dia di tengah,
Menghijau bila dia mencondong,
Gambaran zahirnya bagai lukisan
tanpa aestetiknya…
Mendung walau disapa cahaya,
Tidak secerah matahari sinarnya,
Biar ketika musim tertawa,
Tetap bayangnya yang kencang
bergembira,
Biar ketika kelam wajahnya,
Tetap bayangnya berbisik mesra…
Bukan seindah kayangan,
Walau dengan pepohon buah epal
memerah warnanya,
Setitik bisa yang mampu membunuh,
Pergilah nun jauh mencari
penawar,
Di dalam kabus, jauh tersesat di
belantara,
Di satu sudut misteri itulah
jawapannya…
Tidak mencapai sempurna,
Selamanya tidak akan ke sana,
Walau semegah mana hentakan kaki,
Belum tentu cukup qudrat nya,
Kerana hamba itu bengkok yang
susah melurus,
Bila kau keras, dia mematah…
Bila kau lembut, dia bertahan…
Kerana adanya dia bukan seindah
kayangan…”
RrJ

0 comments:
Post a Comment