بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Assalamualai'kum WaRahmatullahi
WaBarakatuh.
Alhamdulillah, cuma kan menambah sedikit dari catatan yang
sebelum ani. Yalah bila kesibukkan melanda, menaip sebuah karangan pun macam
inda lagi bertantu. *catatan yang lepas menjadi contoh untuk ketidak-lengkapan
dalam penulisan. Bukankah ini satu ke-katun-an yang nyata??* In shaa Allah, di
dalam text yang indalah seberapa ani, kan menyambung untuk merungkaikan segala
bentuk events yang sudah berlaku sepanjang journey to memory lane di Negara
Matahari Terbit.
Disepanjang laluan udara, memang inda dinafikan, banyaklah
awan nano nano nano meng-greet pandangan ku yang lekat arah window.
MasyaaAllah, I could fall in love million times kalau macam ani lah gayanya
ciptaan Dia. Macam lukisan… tapi hakikatnya bukan, this is the real one!
Sedikit demi sedikit semua bangunan menjadi damit hinggakan satu saat atu
usulnya macam legoland saja. For a moment there, cemburu ku datang menjelma
kepada satu makhluk-Nya yang bernama ‘burung’. Kenapa?
The reason is because binatang seperti burung indakan pernah
berhenti bertasbih kepada Allah, sedangkan ada masanya aku lupa pada-Nya. Burung-burung
mampu terbang jauh tinggi ke langit and melihat view yang seumpama ani
setiaphari. Konfem durang lagi banyak kali jatuh chenta pada-Nya compared to
makhluk berakal yang menaip catatan poyo ani. Makhluk seperti ini tidak akan
diragukan lagi kesetiaannya terhadap Yang Maha Esa!
Tapi pada masa yang sama rasa syukur tetap ada, pasal apa?
Pasal Dia menciptakan diri ani cukup sempurna dari segi fizikal. Masih ada mata
yang mampu melihat keindahan yang aku tahu cuma lakaran awal His Paradise. And
of course, the real thing would be million times more majestic than this dunia.
*cause He said so in His Loveletter* Alhamdulillah a’laa kulli haal. So rasa
cemburu atu berkurang lah sedikit and yes, the remaining jealousy I will make
it to something… a drive, a push to make-over my Imaan. Yoshaaa!!
Ganbarimashou~~
Beberapa hari berlalu dan cobaan pertama yang aku dan teman
seperjuangan yang lain hadapi ialah getting lost in the city without having
internet connection to look for the right way to go back home. Bila berada di
Negeri Matahari Terbit ani, the challenges are that perkataan romanji amatlah
sparse and sangat susah berkomunikasi dengan orang native di sini, pasal durang
kurang memahami bahasa ong puteh. The good thing is that, they are the most
peramah people on earth and I give them 5 bintang! Walaupun ada language
barrier, durang inda kekok untuk menolong. One of the main reasons as to why
kita patut kagum dengan mereka yang tinggal di negeri ani.
First few days were torture pasal apa? Rindu. This one thing
memberat di hati. Bila Allah ciptakan jarak, ianya bagaikan satu ujian yang sejujurnya
aku sendiri rasa inda kan mampu… Tapikan with jarak lebih bermakna lagilah kan
rasa rindu atu kan? Sebelum ani, betapa sombongnya diri untuk mengaku rindu
pasal apa? Dulu rasanya macam inda perlulah rindu arah orang yang dekat dengan
kita pasal durang akan selalu here with us. But with this event, He is trying
to test me. ‘What if I take orang yang terlalu dekat di hati hamba Ku yang
seorang ani, apa yang akan di buatnya?’
Dan yes, I fall in despair every time remembering
insan-insan terchenta yang ada di tanahair. This is when I realised that we should cherish every moments that we
had/have with our love ones because perpisahan atu tetap ada. And this also
teaches me that everything in this world are all His and what or who I have now
is just pinjaman saja. Terasa lah jua, mengkin selama ani, aku kurang bersyukur
pada-Nya pasal meminjamkan mereka-mereka ani
dalam hidupku. Fuh, sentap level infinity. Sewajarnya Allah mengajar aku
now.
Hanya satu lah, harap-harap jiwa ani kuat. Hati ani tabah. And
surely I’m assured that He will hold my hand and keep my heart safe. For He is
the Healer, He is Loving, He is Lifting and He is Nurturing. Aamiin.
Photo credit: to owner :D
RrJ


0 comments:
Post a Comment