RSS

Sunday, 24 April 2016

Diari 5.5

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Assalamualai'kum WaRahmatullahi WaBarakatuh.

Alhamdulillah, cuma kan menambah sedikit dari catatan yang sebelum ani. Yalah bila kesibukkan melanda, menaip sebuah karangan pun macam inda lagi bertantu. *catatan yang lepas menjadi contoh untuk ketidak-lengkapan dalam penulisan. Bukankah ini satu ke-katun-an yang nyata??* In shaa Allah, di dalam text yang indalah seberapa ani, kan menyambung untuk merungkaikan segala bentuk events yang sudah berlaku sepanjang journey to memory lane di Negara Matahari Terbit.

Disepanjang laluan udara, memang inda dinafikan, banyaklah awan nano nano nano meng-greet pandangan ku yang lekat arah window. MasyaaAllah, I could fall in love million times kalau macam ani lah gayanya ciptaan Dia. Macam lukisan… tapi hakikatnya bukan, this is the real one! Sedikit demi sedikit semua bangunan menjadi damit hinggakan satu saat atu usulnya macam legoland saja. For a moment there, cemburu ku datang menjelma kepada satu makhluk-Nya yang bernama ‘burung’. Kenapa?

The reason is because binatang seperti burung indakan pernah berhenti bertasbih kepada Allah, sedangkan ada masanya aku lupa pada-Nya. Burung-burung mampu terbang jauh tinggi ke langit and melihat view yang seumpama ani setiaphari. Konfem durang lagi banyak kali jatuh chenta pada-Nya compared to makhluk berakal yang menaip catatan poyo ani. Makhluk seperti ini tidak akan diragukan lagi kesetiaannya terhadap Yang Maha Esa!

Tapi pada masa yang sama rasa syukur tetap ada, pasal apa? Pasal Dia menciptakan diri ani cukup sempurna dari segi fizikal. Masih ada mata yang mampu melihat keindahan yang aku tahu cuma lakaran awal His Paradise. And of course, the real thing would be million times more majestic than this dunia. *cause He said so in His Loveletter* Alhamdulillah a’laa kulli haal. So rasa cemburu atu berkurang lah sedikit and yes, the remaining jealousy I will make it to something… a drive, a push to make-over my Imaan. Yoshaaa!! Ganbarimashou~~

Beberapa hari berlalu dan cobaan pertama yang aku dan teman seperjuangan yang lain hadapi ialah getting lost in the city without having internet connection to look for the right way to go back home. Bila berada di Negeri Matahari Terbit ani, the challenges are that perkataan romanji amatlah sparse and sangat susah berkomunikasi dengan orang native di sini, pasal durang kurang memahami bahasa ong puteh. The good thing is that, they are the most peramah people on earth and I give them 5 bintang! Walaupun ada language barrier, durang inda kekok untuk menolong. One of the main reasons as to why kita patut kagum dengan mereka yang tinggal di negeri ani.

First few days were torture pasal apa? Rindu. This one thing memberat di hati. Bila Allah ciptakan jarak, ianya bagaikan satu ujian yang sejujurnya aku sendiri rasa inda kan mampu… Tapikan with jarak lebih bermakna lagilah kan rasa rindu atu kan? Sebelum ani, betapa sombongnya diri untuk mengaku rindu pasal apa? Dulu rasanya macam inda perlulah rindu arah orang yang dekat dengan kita pasal durang akan selalu here with us. But with this event, He is trying to test me. ‘What if I take orang yang terlalu dekat di hati hamba Ku yang seorang ani, apa yang akan di buatnya?’

Dan yes, I fall in despair every time remembering insan-insan terchenta yang ada di tanahair. This is when I realised  that we should cherish every moments that we had/have with our love ones because perpisahan atu tetap ada. And this also teaches me that everything in this world are all His and what or who I have now is just pinjaman saja. Terasa lah jua, mengkin selama ani, aku kurang bersyukur pada-Nya pasal meminjamkan mereka-mereka ani  dalam hidupku. Fuh, sentap level infinity. Sewajarnya Allah mengajar aku now.

Hanya satu lah, harap-harap jiwa ani kuat. Hati ani tabah. And surely I’m assured that He will hold my hand and keep my heart safe. For He is the Healer, He is Loving, He is Lifting and He is Nurturing. Aamiin.
















Photo credit: to owner :D

RrJ


0 comments:

Post a Comment