Assalamua'laikum
WaRahmatullahi WaBarakatuh,
Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin. Betapa bertuah rasanya bila
Allah masih lagi membagi kitani masa untuk hidup, bernafas dan jua masa untuk
kitani top-up iman as well as beribadah all out to Him. Terharu ada jua lah
especially bila akhirnya dapat ku update blog ani setelah lama hiatus dari
dunia virtual dan sekaligus merepek dan terus membebel dalam laman sesawang
ani. *Mmmkay* Dan usulnya para pembaca leteranku ani pun turut merasa happy
yang teramat pasal pada akhirnya blogger decided untuk menulis post ani. Awww~
sweeeett~ *Okay, perasan. Rupanya ramai yang kan humban tomato kalau dorang
nampak blogger.*
Sebenarnya, beratus and mungkin jua beribu sebab, kenapa
blogger lama hiatus. Antara sebabnya adalah komitmen terhadap kehidupan dunia
nyata yang membabitkan semangat setiakawan yang tidak berbelah bahagi dan juga
komitmen untuk ber-qaseh syayang tahap melayang-layang terhadap Ultra-family
yang tidak habis-habisan melayani karenah seorang insan yang ya ampun, terlampau
yang melampau ke-cartoon-annya (Siapa lagi, blogger lah insan yang yang
dimaksudkan. Ish, ish, ish *geleng-geleng kepala*)
Masa kitani masih lagi kanak-kanak, che’gu-che’gu mengajar
kitani nombor 1 hingga 10 dan berlanjutanlah sehingga kitani semua pandai
addition, subtraction, multiplication, division, algebra and so on. *tiba-tiba
serius* Sehinggakan ada suatu peringkat umur atu, kitani mulalah mempersoalkan
sesuatu benda (Child’s innocence lah katakan) “Apakah penghujung pada nombor?
Kan kalau alphabet dari A sampai Z, then nombor? Kesian jua tuu.”
“Babah, along ada soalan!,” tiba-tiba dengan iskinya seorang
kanak-kanak yang curious berabis angkat tangan bertanya kepada ayahnya ketika
ayahnya mengajar kanak-kanak tersebut pelajaran matematika.
“Okay, apa soalan along?”
“Nombor yang paling-paling-paling last banar-banar-banar
last berabis sekali apa?”
“Hmmm…*buat gesture orang sedang berfikir* Allahu a’lam,”
jawab ayahnya dengan senyuman.
“Huh? *buat muka hairan* Aneh nya nombor atu… Along na pernah
dangar,” angguk-angguk tanda menerima jawapan ayahnya. Ayahnya hanya mampu
tersenyum penuh makna melihat reaksi anaknya.
Babak indah *uhuk2* di atas dipetik daripada Hikayat Bunga
Orkid kaler gadongputeh dan secawan kopi latte. Hehe. Kesimpulannya, kitani
sendiri inda tahu apa penghujung nombor, kan? There are a lot of possibilities
in numbers. Pernah lah jua terfikir, andai kata quantity ada berlimit jadi what
about pahala kitani? Sekiranya Allah ciptakan nombor sampai 100 sahaja,
quantity pahala kitani pun, hingga sanalah jua, no? That’s why ada hikmah
kenapa Allah bagi number hingga tahap infinity pasal quantity atu akan terus
either going up or down. Manith. Aduh, manis aturan Allah. Another evidence
that shows just how much He wants to give us more and more and more than we
have now. AllahuAkbar!
Yang atu kisah nombor. Now kita move on to topik yang
sebenar-benarnya. “Eh, balum masuk main point kah??? Batah-batah saja ku membaca.
*mengepalkan tangan*” Hehehe. Sabar~ sabar itu Imaan~ Orite, dalam blog post
yang inda seberapa ani, in shaa Allah, kan membincangkan episode-episode *Edeh,
kata ganda in English. Nice~* hidup yang pastinya pernah dilalui oleh setiap
insan yang berada di planet bumi. Di sini, ingin rasanya ku masukkan satu
firman Allah s.w.t. dalam Surah Yaa siin, ayat 36:
“Maha Suci Tuhan yang telah
menciptakan pasangan-pasangan semuanya baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi
dan dari diri mereka maupun dari apa-apa yang mereka tidak ketahui”
Yup-yup, Allah sudah ciptakan tani secara berpasangan. Malam
dengan siang, bulan dan matahari, langit dan bumi, syurga dan neraka, male
flower and female flower, male bird and female bird, good deed and bad deed dan
bermacam-macam lemon lagi lah *ehem*. Tapi of course, in my essay today, I will
not bahaskan tentang semua yang ada di atas. *because semua atu cuma contoh
belaka* Pasangan yang lazim kita stumble upon adalah pasangan PERTEMUAN dan
PERPISAHAN. Iye, mereka berdua ni memang pasangan yang serasi, ya ndok?
Teringat satu quote dari seorang Ultra dalam deen yang MasyaaAllah menggegarkan
minda dan hati ku untuk berfikir dan untuk ber-feel:
“Setiap
pertemuan itu bersyarat dan perpisahan itu pasti.” – (Ultra-Aishy, 2015)
Setiap tahun mesti kitani berjumpa dengan wajah-wajah baru,
eh kajap, bukan setiap tahun, malah setiap kali, kitani pasti berjumpa new
faces and of course new species secara sedar ataupun inda. Ada time-nya, kitani
cuma sekadar passing by saja dengan another person atu, maksudnya orang atu
hanyalah side character dalam chapter harian kitani (to make it easier, let’s
just say, these people are like pedestrians) whereas ada masanya, kitani
dipertemukan dengan orang yang betul-betul membagi impak dalam kehidupan
kitani, maksudnya kirakan dorang ani adalah one of the main characters dalam
chapter hidup tani.
As soon as we know what’s good and what’s bad, we were given
this opportunity to choose and every single day, there is always something to
choose from. Dan segala apa yang kita pilih dari dahulu hingga sekarang,
menbentuk/ menulis/ memenuhi ruangan muka surat dalam buku novel cerita hayat
kitani. That’s why jangan pernah menyesal bila dipertemukan dengan manusia
sejagat walaupun manusia tersebut sudah menghancur luluhkan hidup kitani.
Berdirinya us now sudah menunjukkan betapa strong-nya jiwa kitani. Tanpa
pertemuan demikian, we wouldn’t be as kuat as we are today.
Adakalanya jua, kehadiran seseorang dalam kehidupan kita
menukarkan pandangan kitani pada dunia. Pengaruh dari cara pemikiran orang atu
membuatkan kitani melihat sekeliling kitani dengan kaler yang berbeda. Kalau
dulunya, we see this world macam shades of grey saja, now with him/ her/ them,
our world jadi macam kaler-kaler rainbow *eseh, jiwang bunyinya tapi ini adalah
fakta!*.
“Ukht, have you ever feel regretful when you knew that you
were enrolled at this university?”
“Haha… kenapa enti tiba-tiba bagi soalan ani? Soalan exam
paper jenis gini payah sikit ana kan jawab.”
“Curiousity... So tell me, if you could choose other
university dulu, what would it be?”
“Regret? Never. We plan but He still got the best plan for
us so… if I could choose then I would still choose to be here.”
“Kenapa?”
“Because who, in her right mind would want to miss a given
chance to meet you and them? No-no. I wouldn’t.”
“Allah. You’ve just made my day with that cheesy line of
yours. Hahahahahahaha.”
Good thing is that bila seseorang atu mampu membuatkan
kitani berfikir panjang. Alangkah baiknya kalau kitani hidup di dunia ani tapi
bermanfaat kepada orang lain. Inda perlulah kitani cuba memaksa orang untuk
berubah tapi cukup sekadar menjadi contoh yang baik. Tapi cemana? Terapkanlah nilai-nilai
murni MIB dalam diri kitani *bah, merepek*. Atu salah satu cara lah saja tapi
yang paling dekat di otak untuk dicerna is by adopting akhlak yang ampuh dan
MasyaaAllah, manith. Teringat hadith Rasulullah s.a.w.;
Dari
Jabir r.a. meriwayatkan bahawa baginda Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Di antara kamu orang yang paling
aku cintai dan orang yang hampir kepadaku pada hari kiamat ialah orang yang
baik akhlaknya”- Hadith Riwayat Tirmizi
Then how about perpisahan? Setiap pertemuan sudah semestinya
ada perpisahan *Maap atas ketelanjuran ayat skema yang melampau dalam
penulisan. >.<”*. Kenapa ada perpisahan? Kenapa mesti ada perpisahan? Inda
boleh kah kalau aku bersama dengan ea selamanya? *Ewww… pelik punya soalan
tahap mual membaca* Bayangkan pertemuan tanpa perpisahan; what if seseorang atu
sebenarnya adalah poison dalam minuman milo kitani? Killing us softly. Cemana?
Mudharatnya arah kita jua kan? That’s why perlunya perpisahan walau pahit,
se-matham mana sekali pun, perpisahan mesti ada.
Mungkin jua jodohnya dengan kitani sementara saja. Hari ani
bertemu then hari next-next nya berpisah. Or jodoh yang molek, cute dan sweet
is when Allah temukan kita today, then esok berpisah, sekali, He let us meet
again. Yang paling menggerunkan kitani is when perpisahan dek ajal menjelma.
*pasang lagu sedih* Ani perpisahan yang pasti kalau di dunia. Bacteria lagi
pandai mati ani kan pula human beings/ homo sapiens. However, ada satu benda
sweet yang sweetnya sweet berabis *apakah*:
“You
will be with who you love”
In akhirah, kita akan bersama dengan orang yang kita
chentai. This is crucial, people. Chentai mereka yang membuatkan kita semakin
mendekat dengan Allah and Rasulullah s.a.w. dan yang bisa/ mampu membuatkan
kita jatuh chenta berkali-kali dengan Maha Pencipta. Only with this, in shaa
Allah, Allah will allow us to meet them in His Jannah. *Apa lagi makna kejayaan dan
kebahagiaan kalau bukan pertemuan dengan insan-insan terchenta in Paradise??* On
the other hand, kalau kita menchentai seseorang yang menggoyahkan Istana keimanan
kitani… sekarang ani jua, angkat beg belayar yang berisi pakaian Iman dan ihsan
kitani dan buka pintu laju-laju dan pecut keluar.
If nombor tiada penghujungnya tapi kitani tetap
berkesudahan. Inda tahu lah kesudahannya cemana because we don’t have the
ability to see the future. *which I think is a good thing pasal if we can see
the future, kitani indakan mau berusaha sehabis mungkin untuk mendapat future
tersebut, right?*
Alhamdulillah ‘alaa kulli haal. In shaa Allah, sampai sini
aja dahulu. *Rasanya macam kan buat Parte ke-2 untuk penulisan kali ani. Tapi
yalah… karang terus-terusan blogger merepek. Hmmmm...*
RrJ

0 comments:
Post a Comment