Assalamua'laikum WaRahmatullahi WaBarakatuh,
Alhamdulillah, hari ani genaplah masaku semakin hampir. Memang inda dapat dinafikan betapa WAKTU atu pantas meninggalkan diri ani. Sudah XX tahun ni, rasanya apa lagi azamku? Mungkin azamku selamanya indakan berubah; "to be a better Muslimah, to be a better servant of Allah, to be the best child for my parents, to be the better person for my friends and also to fix my heart yang sudah full of contengan yang inda secantik mana." In shaa Allah, akan dihakis sedikit demi sedikit sikap yang kurang munasabah sama perasaan yang kurang logika akal. Hanya of course, ianya mengambil masa.
Selama beberapa tahun menetap di alam yang Allah ciptakan ani, banyaklah perkara-perkara yang terjadi. *macam cliche', haha* Sampaikan serapuh-rapuh iman di dada ni menginginkan agar ditarik balik nikmat ingatan. Tapi bila direnung balik semua detik-detik yang kurang manis inda kurang jua lah rasa pahitnya melebihi rasa pahit ubat panadol acti-fast, semua atu sebagai bisikan rindu Allah yang menginginkan diri ani supaya bebalik semula arahnya. Kadang-kadang terfikir jua, kenapa lah diri ani nda sedar awal?
Ada orang kata didikkan starts at home. Tapi jangan silap ada jua, manusia yang dilahirkan dalam keluarga yang berilmu tapi anaknya mungkin inda mengamalkan ilmu seperti apa yang ibu bapanya buat. Sama halnya dengan Iman. Iman bukan boleh diwarisi. *Wah macam lagu Raihan sudah* It comes from the heart. Semuanya berbalik pada individu atu sendiri sebenarnya. Allah indakan mengubah sesuatu kaum andai durang inda mau mengubah diri dorang sendiri. Plus andai kata hidayah atu bentuknya pipih, ia inda kan melayang menghempap muka or hati kitani. Hatta kalau ea berbentuk bulat sekalipun, ia indakan tiba-tiba datang berguling macam guli. Cari. Cari. Cari.
Ada orang kata, "aih, belum sampai seru bah." Haaa! Malaikat Izrail mana menyeru mun ia kan ngambil nyawa kitani. So? Sampai bila? Sampai bila kita kan sedar dunia ani sebagai pinjaman semata? Sampai tua kerepot? *baik masa hidup lama?* Sampai badan lumpuh setampik? Sampai hanya mampu makan bubur, pasal gigi sudah inda dapat menampung kekerasan daging ayam? Sampai jantung barangkali hanya mampu membagi darah ke otak? Sampai tiba-tiba pandangan kabur, hati meraung kesempitan? *rhetorical question*
Di sempena hari yang, In shaa Allah, manis ani, mungkin ada baiknya aku muhasabah diri. Cek minyak iman, kalau kurang, memang parah. *adalah parahnya terasa* Suka duka kehidupan atu menjadikan who we are, mungkin ada kalanya manis macam teh yang ku buat hari-hari *kes 5 sudu dibagi, haha*, masam melebihi rasanya limau kasturi, kelat macam pisang yang ari atu ku TERmakan or yang menyedihkan, pahit yang melampau sampaikan lidah kalau tergigit pun inda lagi terasa. *pahit banar sudah tu* Apa saja event, when we think about it, ea menjadikan kita orang yang baru! Hikmah disetiap sesuatu atu Allah rahsiakan, kalau kita tau we will never learn...
Edisi spesel, 110.
RrJ

0 comments:
Post a Comment