بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Assalamualai'kum WaRahmatullahi
WaBarakatuh.
Di dalam sebuah
town yang bernama Gunung Berbentuk *mind the lame name, pasal blogger inda lagi
terfikir nama yang teluan fancy. Hehe* yang indalah berapa hingar, kebahangan cuacanya
Subhanallah membuatkan wajahku yang anang inda berapa kan manith, mencuka. Matham.
Manik-manik di wajah ku menyerikan lagi
definisi “masam” disana. Berulang-ulang tisu kering menjadi mangsa tong sampah
pasal tisu tersebut no longer kering, obviously. Okeh, enuf with the gibberish
intro. *and probably a bit eww. Sila muntah di tandas* Jangan marah para
pemirsa (sp.?). Inni soim…
“Why aren’t you eating?,” tanya seorang teman dengan ekspresi muka
hairan. Mungkin hairan kenapa dari tadinya sekumpulan akhawat tersebut
memandang makanan dengan pandangan yang rawan tanpa ada effort untuk
menjamahnya padahal jarak makanan tersebut tidaklah sejauh mana.
“Oh, no. We cannot eat now. We are fasting. Please do enjoy your meal,
mate.” Jawab seorang ukhti dalam kumpulan tersebut dengan nada yang sopan.
“Then do you guys want something to drink? There’s ocha (tea) over
there.” Tanyanya lagi.
“It’s okay, we are still fasting. We cannot drink,” jawab another ukhti dengan
tenang.
“What? Not even water?” ekspresi muka tidak percaya.
“Not even water.” Senyum si ukhti dek kelucuan melihat reaksi temannya
itu.
Okay, first,
kisah-kisah yang ada dalam my humble article kali ani tidak ada kena mengena
dengan yang hidup ataupun yang telah tiada. Kalau ada persamaan pada situasi
yang pernah para pembaca lalui, jujur blogger inda pernah stalk para pembaca.
Aku sebenarnya ada life consists of: makan, tidur, main game, merepek dan
ahirnya tidur lagi. *nampak betapa ‘no life’ nya blogger seorang ani* Tidak ada
masa untuk skodeng orang lain. Hehe.
Peliknya lah bila
kitani berada di negeri orang, barulah kitani tau kan merefleksi ibadah kitani.
Kenapa aku buat ani ah? Kenapa perlu aku berpuasa ah? Kenapa aku perlu menutup
aurat ah? Dan the ‘kenapa’-s lists goes on. Initially, apa sebabnya timbulnya
semua soalan ani? Hmmmm… Sebabnya almost everytime teman-teman kitani yang
bukan beragama Islam bertanya. Kitani sebagai Muslim, it is our duty to explain
dengan ayat yang mudah difahami dan mudah dicerna. It doesn’t matter if kitani
nada title ostad, ostazah, imam young, daie hensem dan sebagainya, we can at least
explain to our friends the things yang kitani faham. It’s okay if kitani inda
dapat berhujah dengan dalil-dalil hadith and Al-Qur’an, no worries, kawan. Remember…
Rasullullah s.a.w. bersabda:
“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” – Hadith Riwayat Bukhari.
This is what makes
Islam a sweet religion. *tiba-tiba*I bet selalu kitani nampak hadith yang satu
ani. This is definitely a green light from our love one! Yeay! MasyaaAllah, I
believe I can fly now dan sebarkan this chenta se-entero dunia~~ *but still,
kawan, make sure apa yang kitani sampaikan atu sahih dan tepat.* Kalau ragu,
tanya pada yang ‘arif. I know some of us dibesarkan dalam suasana where
penerapan agama hanya dilakukan masa sekulah ugama. Habis peperiksaan sekulah
ugama, apa yang pernah tani belajar atu mereput ditelan masa. Pasal bila ilmu
inda diamalkan, pandailah ia angkat batis and pergi keluar dari otak. Okey, apa
sebenarnya point yang ku cuba sampaikan… err… tuut tuut. INTERMISSION. Krik,
krik, krik.
Then satu masa bila
kitani mula kan tazkirah sedikit, orang sekeliling kitani melihat kitani dengan
ekspresi, ‘eh, sok suci kamuh. Ngak usah jadi pak imam loh’, ‘e-eh, bajet alim.
Tiba-tiba berkhutbah pulak. Semalam bukan main lagi minum-minum sampai high.
Ingat orang tak tau ke, kopi tuu banyak caffeine?’ *eh. Jangan fikir yang
bukan-bukan eh*. Jangan peduli apa orang cakap. Indakan selamanya kita biarkan
bila nampak sesuatu yang salah atu bermaharajalela? Please lah, jangan jadi
ignorant, sahabat! Now we are living in a world where the rights are the wrong,
and the wrongs are the right. Astaghfirullah Al-‘adzhiim. *Rawan hati bila
memikirkan hakikat ani*
“Why are you fasting?” tanya Dean pada Fatah.
“My God wants to teach me the value of life…” jawab Fatah dengan
senyuman.
“Come on, man. You know I don’t do literature. Straight to the point!”
“Hahaha. Alright. Here are some points that I think, probably, easy to
understand. First, through fasting I will learn to tame my nafs (you know,
lust, desire). Cause sometimes when you keep on fulfilling your nafs, you…
simultaneously deteriorating your body. In other words, I’m giving myself a
rest. Secondly, it teaches me empathy. I mean, look around the world,
starvation, famine is everywhere. Think about how they’d feel when they don’t
have anything to eat? How hard life is when you have nothing? And lastly, to
please my God. Taqwa, we call it. I mean when we love someone, we will devote
ourselves to that person, right? Not wanting to displease them, wanting to do
anything for them. Give commitment to them. These things apply to us, Muslims
as well. We love our God, you see.” Jawab Fatah dengan tenang. Dean mengangguk
faham dengan jawapan sahabatnya itu.
Matahari musim panas sekejap lagi
menenggelamkan dirinya di horizon sana. Angin sepoi-sepoi bahasa menemani
perjalanan mereka menuju ke satu-satunya restoran halal di bandar tersebut.
The
end.
Eh, eh. Tapi post kali
ani balum habis lagi. *almost* There are million things yang kadang-kadang
menghalang kitani untuk mengeluarkan ilmu kitani. Salah satu reasonnya, yalah
perkara di atas where people have this prasangka pada kitani. However, ani
bukan sebagai satu penghalang, in fact, antara langkah pertama tani untuk
berubah is tazkirah. Kadang-kadang, kitani mudah ingat perkara yang kita
sampaikan arah orang berbanding perkara yang kitani simpan then biar berjaruk
di ruangan minda. Therefore never afraid to mengingati orang mana yang patut. Pasal
masa atu jualah kitani sebenarnya mengingati diri kitani. Kan ilmu bila sharing
is caring tapi bila you no longer sharing is kering tia. Geddit? *okay, blogger
ada lame sedikit. Eh, lame banyaklah*Ish, ish, ish.
Ah, satu lagi. Bercakap
mengenai tajuk post kali ani macam inda ngam dengan isi kandungan post. Memang inda
ngam pun, pasal blogger beberapa ketika ani nada idea apa yang kan di post. Let’s
make an analogi lah, aku lihat panda adalah binatang yang introvert *perkara
ani subjektif*. Kenapa? Pasal kecintaan-nya pada bamboo and jua durang ani
sangat misterius in a rare way. *okay, apakan, what am I saying, really?* Panda
sendiri bukan spesis yang agresif *that’s why durang ani cool!* Tapi bila panda
rasa irritated, jangan heran bila that introvert menjadi ganas. Jadinya apa
kaitan-nya dengan post kali ani? Well, nada kaitan. *habislah, kana ladai tia
karang ni blogger ani* *pecut lari mengalahkan Bolt Hussin (sp.?)*
Akhir kalam,
“Maka Maha Tinggi Allah, raja yang sebenar-benarnya dan jangan kamu
tergesa-gesa membaca Al-Qur’an sebelum selesai diwahyukan kepadamu, dan
katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (20:114)
Dalam menuntut
ilmu, don’t rush. Take our time to absorb everything. Cause yang kitani cari is
keberkatan sesuatu ilmu atu as we learn it. Dan bila rasanya susah amat kan di digest,
minta pertolongan-Nya. In shaa Allah, all is well and He will guide us through
those lonely dark night sky. Look at the stars, the moon, another signs of His
guidance and love, aye. *wink*
RrJ

