RSS

Saturday, 27 February 2016

Nombor hingga Infinity, Kita hingga Terhenti

Assalamua'laikum WaRahmatullahi WaBarakatuh,

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin. Betapa bertuah rasanya bila Allah masih lagi membagi kitani masa untuk hidup, bernafas dan jua masa untuk kitani top-up iman as well as beribadah all out to Him. Terharu ada jua lah especially bila akhirnya dapat ku update blog ani setelah lama hiatus dari dunia virtual dan sekaligus merepek dan terus membebel dalam laman sesawang ani. *Mmmkay* Dan usulnya para pembaca leteranku ani pun turut merasa happy yang teramat pasal pada akhirnya blogger decided untuk menulis post ani. Awww~ sweeeett~ *Okay, perasan. Rupanya ramai yang kan humban tomato kalau dorang nampak blogger.*

Sebenarnya, beratus and mungkin jua beribu sebab, kenapa blogger lama hiatus. Antara sebabnya adalah komitmen terhadap kehidupan dunia nyata yang membabitkan semangat setiakawan yang tidak berbelah bahagi dan juga komitmen untuk ber-qaseh syayang tahap melayang-layang terhadap Ultra-family yang tidak habis-habisan melayani karenah seorang insan yang ya ampun, terlampau yang melampau ke-cartoon-annya (Siapa lagi, blogger lah insan yang yang dimaksudkan. Ish, ish, ish *geleng-geleng kepala*)

Masa kitani masih lagi kanak-kanak, che’gu-che’gu mengajar kitani nombor 1 hingga 10 dan berlanjutanlah sehingga kitani semua pandai addition, subtraction, multiplication, division, algebra and so on. *tiba-tiba serius* Sehinggakan ada suatu peringkat umur atu, kitani mulalah mempersoalkan sesuatu benda (Child’s innocence lah katakan) “Apakah penghujung pada nombor? Kan kalau alphabet dari A sampai Z, then nombor? Kesian jua tuu.”

“Babah, along ada soalan!,” tiba-tiba dengan iskinya seorang kanak-kanak yang curious berabis angkat tangan bertanya kepada ayahnya ketika ayahnya mengajar kanak-kanak tersebut pelajaran matematika.

“Okay, apa soalan along?”

“Nombor yang paling-paling-paling last banar-banar-banar last berabis sekali apa?”

“Hmmm…*buat gesture orang sedang berfikir* Allahu a’lam,” jawab ayahnya dengan senyuman.

“Huh? *buat muka hairan* Aneh nya nombor atu… Along na pernah dangar,” angguk-angguk tanda menerima jawapan ayahnya. Ayahnya hanya mampu tersenyum penuh makna melihat reaksi anaknya.

Babak indah *uhuk2* di atas dipetik daripada Hikayat Bunga Orkid kaler gadongputeh dan secawan kopi latte. Hehe. Kesimpulannya, kitani sendiri inda tahu apa penghujung nombor, kan? There are a lot of possibilities in numbers. Pernah lah jua terfikir, andai kata quantity ada berlimit jadi what about pahala kitani? Sekiranya Allah ciptakan nombor sampai 100 sahaja, quantity pahala kitani pun, hingga sanalah jua, no? That’s why ada hikmah kenapa Allah bagi number hingga tahap infinity pasal quantity atu akan terus either going up or down. Manith. Aduh, manis aturan Allah. Another evidence that shows just how much He wants to give us more and more and more than we have now. AllahuAkbar!

Yang atu kisah nombor. Now kita move on to topik yang sebenar-benarnya. “Eh, balum masuk main point kah??? Batah-batah saja ku membaca. *mengepalkan tangan*” Hehehe. Sabar~ sabar itu Imaan~ Orite, dalam blog post yang inda seberapa ani, in shaa Allah, kan membincangkan episode-episode *Edeh, kata ganda in English. Nice~* hidup yang pastinya pernah dilalui oleh setiap insan yang berada di planet bumi. Di sini, ingin rasanya ku masukkan satu firman Allah s.w.t. dalam Surah Yaa siin, ayat 36:

“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa-apa yang mereka tidak ketahui”

Yup-yup, Allah sudah ciptakan tani secara berpasangan. Malam dengan siang, bulan dan matahari, langit dan bumi, syurga dan neraka, male flower and female flower, male bird and female bird, good deed and bad deed dan bermacam-macam lemon lagi lah *ehem*. Tapi of course, in my essay today, I will not bahaskan tentang semua yang ada di atas. *because semua atu cuma contoh belaka* Pasangan yang lazim kita stumble upon adalah pasangan PERTEMUAN dan PERPISAHAN. Iye, mereka berdua ni memang pasangan yang serasi, ya ndok? Teringat satu quote dari seorang Ultra dalam deen yang MasyaaAllah menggegarkan minda dan hati ku untuk berfikir dan untuk ber-feel:

                “Setiap pertemuan itu bersyarat dan perpisahan itu pasti.” – (Ultra-Aishy,                       2015)

Setiap tahun mesti kitani berjumpa dengan wajah-wajah baru, eh kajap, bukan setiap tahun, malah setiap kali, kitani pasti berjumpa new faces and of course new species secara sedar ataupun inda. Ada time-nya, kitani cuma sekadar passing by saja dengan another person atu, maksudnya orang atu hanyalah side character dalam chapter harian kitani (to make it easier, let’s just say, these people are like pedestrians) whereas ada masanya, kitani dipertemukan dengan orang yang betul-betul membagi impak dalam kehidupan kitani, maksudnya kirakan dorang ani adalah one of the main characters dalam chapter hidup tani.  

As soon as we know what’s good and what’s bad, we were given this opportunity to choose and every single day, there is always something to choose from. Dan segala apa yang kita pilih dari dahulu hingga sekarang, menbentuk/ menulis/ memenuhi ruangan muka surat dalam buku novel cerita hayat kitani. That’s why jangan pernah menyesal bila dipertemukan dengan manusia sejagat walaupun manusia tersebut sudah menghancur luluhkan hidup kitani. Berdirinya us now sudah menunjukkan betapa strong-nya jiwa kitani. Tanpa pertemuan demikian, we wouldn’t be as kuat as we are today.

Adakalanya jua, kehadiran seseorang dalam kehidupan kita menukarkan pandangan kitani pada dunia. Pengaruh dari cara pemikiran orang atu membuatkan kitani melihat sekeliling kitani dengan kaler yang berbeda. Kalau dulunya, we see this world macam shades of grey saja, now with him/ her/ them, our world jadi macam kaler-kaler rainbow *eseh, jiwang bunyinya tapi ini adalah fakta!*.

“Ukht, have you ever feel regretful when you knew that you were enrolled at this university?”

“Haha… kenapa enti tiba-tiba bagi soalan ani? Soalan exam paper jenis gini payah sikit ana kan jawab.”

“Curiousity... So tell me, if you could choose other university dulu, what would it be?”

“Regret? Never. We plan but He still got the best plan for us so… if I could choose then I would still choose to be here.”

“Kenapa?”

“Because who, in her right mind would want to miss a given chance to meet you and them? No-no. I wouldn’t.”

“Allah. You’ve just made my day with that cheesy line of yours. Hahahahahahaha.”

Good thing is that bila seseorang atu mampu membuatkan kitani berfikir panjang. Alangkah baiknya kalau kitani hidup di dunia ani tapi bermanfaat kepada orang lain. Inda perlulah kitani cuba memaksa orang untuk berubah tapi cukup sekadar menjadi contoh yang baik. Tapi cemana? Terapkanlah nilai-nilai murni MIB dalam diri kitani *bah, merepek*. Atu salah satu cara lah saja tapi yang paling dekat di otak untuk dicerna is by adopting akhlak yang ampuh dan MasyaaAllah, manith. Teringat hadith Rasulullah s.a.w.;

           Dari Jabir r.a. meriwayatkan bahawa baginda Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Di antara kamu orang yang paling aku cintai dan orang yang hampir kepadaku pada hari kiamat ialah orang yang baik akhlaknya”- Hadith Riwayat Tirmizi

Then how about perpisahan? Setiap pertemuan sudah semestinya ada perpisahan *Maap atas ketelanjuran ayat skema yang melampau dalam penulisan. >.<”*. Kenapa ada perpisahan? Kenapa mesti ada perpisahan? Inda boleh kah kalau aku bersama dengan ea selamanya? *Ewww… pelik punya soalan tahap mual membaca* Bayangkan pertemuan tanpa perpisahan; what if seseorang atu sebenarnya adalah poison dalam minuman milo kitani? Killing us softly. Cemana? Mudharatnya arah kita jua kan? That’s why perlunya perpisahan walau pahit, se-matham mana sekali pun, perpisahan mesti ada.

Mungkin jua jodohnya dengan kitani sementara saja. Hari ani bertemu then hari next-next nya berpisah. Or jodoh yang molek, cute dan sweet is when Allah temukan kita today, then esok berpisah, sekali, He let us meet again. Yang paling menggerunkan kitani is when perpisahan dek ajal menjelma. *pasang lagu sedih* Ani perpisahan yang pasti kalau di dunia. Bacteria lagi pandai mati ani kan pula human beings/ homo sapiens. However, ada satu benda sweet yang sweetnya sweet berabis *apakah*:

                “You will be with who you love”

In akhirah, kita akan bersama dengan orang yang kita chentai. This is crucial, people. Chentai mereka yang membuatkan kita semakin mendekat dengan Allah and Rasulullah s.a.w. dan yang bisa/ mampu membuatkan kita jatuh chenta berkali-kali dengan Maha Pencipta. Only with this, in shaa Allah, Allah will allow us to meet them in His Jannah. *Apa lagi makna kejayaan dan kebahagiaan kalau bukan pertemuan dengan insan-insan terchenta in Paradise??* On the other hand, kalau kita menchentai seseorang yang menggoyahkan Istana keimanan kitani… sekarang ani jua, angkat beg belayar yang berisi pakaian Iman dan ihsan kitani dan buka pintu laju-laju dan pecut keluar.  

If nombor tiada penghujungnya tapi kitani tetap berkesudahan. Inda tahu lah kesudahannya cemana because we don’t have the ability to see the future. *which I think is a good thing pasal if we can see the future, kitani indakan mau berusaha sehabis mungkin untuk mendapat future tersebut, right?*

Alhamdulillah ‘alaa kulli haal. In shaa Allah, sampai sini aja dahulu. *Rasanya macam kan buat Parte ke-2 untuk penulisan kali ani. Tapi yalah… karang terus-terusan blogger merepek. Hmmmm...*

RrJ



Saturday, 20 February 2016

FAQ Part 1

Assalamua'laikum WaRahmatullahi WaBarakatuh,

Seperti dalam tajuk di atas, pada post yang inda seberapa ani, in shaa Allah, kan menjawab ‘frequent’ tahap gaban questions yang selalu kena humban ke depan mataku. Okay, mesti banyak orang tetanya-tanya kenapa tiba-tiba blogger ani kan buat post ani kan? Ini adalah kerana kurang rajin kan menjawab lagi bila kena tanya balik-balik plus banyak sudah bubbles formed sampai kering leher sudah menjawab soalan yang cliché. *bah, ada tia over description nya* 

1.  Blogger pernah planning kan buat buku?

-          Okeh, buat masa ani, masih belum ada niat kan membuat buku. Salah satu reasonnya is because aku mempunyai satu kelemahan yang amat terang lagi benderang. Iaitu tatabahasa yang hancus. Usulnya kalau para guru-guru yang pernah mengajarku membaca catatan-catatan ku, memang kana ambat ni pakai rotan dan serius ku katakan, guru-guru yang pernah mengajarku semuanya garang-garang sayang. *tunduk kepala pandang lantai* 

2. Blogger ani masih lagi student kah?
-          Ohohoi, selagi namanya hidup di dunia, kitani ani tetap selamanya menjadi student. Hidup setiap hari saja mengajar kitani banyak benda. Segala mistakes yang kitani buat atu pun sudah cukup membuktikan ke-student-an kitani. *Okay, suka hati buat vocabulary baru*

4.    3. Blogger, apa your favourite?
-          Cuba baca title blog. *Maaf ah. Soalan abiskita ani vague. Kalau dalam ujian ataupun peperiksaan, ada soalan macam ani, awal sudah saya tinggalkan kertas ujian/ peperiksaan atu* Hmmmm..

5.  4. Blogger ani anang penceramah kah?
-          Aaamiiinn. Bagus idea abiskita atu. Ana amatlah tepakai. *Inda faham soalan*

        5. Blogger ani pisin yang suka becali eh, cemana kan tu?
-          Ah?

Alhamdulillah, 5 soalan dahulu yang bisa dijawab. Moga jawapan-jawapan di atas memdapat markah 100%. Sekian dulu, saya pamitan.


RrJ