RSS

Thursday, 27 October 2016

Buat Mu, Wahai Bulan.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Assalamualai'kum WaRahmatullahi WaBarakatuh.


Mencari Diri yang Telah Menghilang...
Mentadabbur Makhluk dan Alam-Nya...
Agar Dapat Ku Jumpai Kembali Rindu yang Maha Indah itu,
Agar Dapat Ku Rasai Lagi Manith nya Ketenangan Hati itu...

Jadi Bulan, Tunggu Aku ya.

Dengan chenta Fillah yang Padu,
RrJ

Friday, 21 October 2016

Ekspekteyshen, wat do ya think?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Assalamualai'kum WaRahmatullahi WaBarakatuh.

Inda sangka kaki ku masih lagi kuat memijakkan tapaknya di bumi masa bulan Oktober ani. *eseh, dramatik lah katakan* Memang inda dinafikan, apa lah sangat pencapaian yang telah ku buat sepanjang almost 10 bulan berada di tahun 2016. Wait, wait, wait. 2016! Kejapnya masa berlalu, wei~ *garu-garu kepala yang inda gatal* Bila direnung-renungkan balik, inda banyak mana pun pencapaian yang telah diraih. 

But Alhamdulillah through and through… This year diri yang pernah imagine ke negeri Rising Matahari tapi inda pernah berharap pun dapat ke sana *paling-paling dalam khayalan saja* akhirnya bisa menghirup udara oksigen di sana. “Maka yang mana satu di antara nikmat-nikmat Tuhan kamu, yang kamu hendak dustakan?” *Nangis banjir*

Buat apa aku type this post sebenarnya? No hal. Cuma kan share ke-random-an thoughts yang menari-nari di ruangan minda.

Along! What kind of result is this?,” sambil melemparkan secara kasar record peperiksaan ke atas meja belajar milik kanak-kanak yang sedang tekun membaca buku novel Inggeris. Kanak-kanak tersebut tersentak dek kerana dikejutkan oleh lemparan kasar tersebut. Mukanya berubah dari tenang menjadi ketakutan. Kanak-kanak tersebut hanya mampu mendiamkan diri.

You are such a shame to this family. Anak ngangah mu dapat 5As tapi Along dapat 4A’s 1B! This is ridiculous; do you know how much mama and babah spend on you? Your tuition and everything? And you can’t even get 5A’s! What kind of daughter are you? Dasar inda menganang budi. Pikirnya sanang kali mencari usin ani.” Ucap ibunya yang wajahnya sudah kemerah-merahan kerana perasaan marahnya terhadap anak sulungnya. Kanak-kanak tersebut terus tunduk dan mendiamkan diri kerana dia mengetahui akan akibat buruk yang terjadi jika dia membalas kata-kata ibunya itu.

Sketsa di atas adalah sedutan dari babak dalam sebuah novel slice of life yang telah di-hyperbola-kan. Opps. *Ish ish ish, bad, bad*
Expectation. Personally, I think, expecting something is not wrong tapi bila expectation atu melampau sampaikan orang lain merana, don’t you think benda atu jadi macam sesuatu yang menyusahkan jiwa raga? This will definitely menyakitkan both pihak; orang yang expecting and also orang yang kana expected upon. Untuk menjelaskan lagi my point is that, for instance, sekiranya kitani menaruh expectation arah seseorang, kitani sebenarnya membuatkan orang atu indirectly berjanji dengan kitani untuk buat seperti mana apa yang kitani expect dari durang.

Jadi, kalau orang tersebut inda dapat memenuhi expectation tani, mulalah kitani meradang, marah, mengganas, geram, sakit hati, tawar hati, pergi mereput dan bermacam-macam lemon lagi lah. Ani lah negative side-effect of having expectation on others. Jap, jap. I hope pembaca tahu apa makna expectation. Expectation is like jangkaan.

“The key to happiness is low expectations. Lower. Nope, even lower. There you go.”- unknown

Ada orang, Allah lebihkan dalam pemahaman teori not praktikal and the others handal dalam bab-bab praktikal but not theories. Handal buat sastera tapi bila di tanya apa dia anatomy muscles, tiba-tiba perutnya kecut semacam seakan TTR (tak tentu rasa). Handal buat scientific experiments and buat reports berjela-jela english retis melacis tapi bila buat karangan ‘Saya sebatang pen’, dia mula talk about material secara saintifik di perbuat dari apa and bukan for the fun of it. Nampak lah bahawa, Allah cipta kitani in a win-win situation. Then why kitani over expectation untuk makhluk lemah macam diri tani? Ask ourselves; are we even perfect to begin with? Astaghfirullahal’adzhiim.

When talking about expectations ani, in the end, we will eventually talk about self-worth. We have a certain degree of expectation into something to the point that, that something rasa pressurised by not meeting that expectation when in fact, that something is already good enough! *okay, too many ‘that something’, alamat kana buang ke laut oleh Cigu inglis* Sebagai contoh, let’s look at magazines nowadays, they promote a specific level of ‘being chantek, menarek, teh tarek, makan kueh bom’ and also ‘being hensem and buff ala-ala bro-bro gym yg ada 4x2 tingkatan bangunan arah abdomen’. And orang pedestrian yang cuma level ubi kentang macam saya melihat pun rasa, “this is probably the definition of beauty~” tapi faktanya, it’s not! So kawan, Allah dah ciptakan kamu dengan semanith-manith ciptaan. Berbahagialah~~

Look at the mirror, we are good enough. We are pretty/ handsome enough. We are cute enough. Peduli apa dengan expectation orang yang inda berkesudahan. Manusialah kan, selagi ada mulut untuk berbicara, they won’t ever stop. When they say, you are not good, the outcome is either to bring you down or lift you up. So always choose the bright shiny positive sides, make their expectation or critics as strength; make them as a challenge. *yelah, selagi expectation atu inda menyalahi hukum syarak!* But never try changing yourself into somebody else! Cause living a life that is not yours is very painful. Very hurtful. Very sorrowful. So if kitani kan change sekali pun, never abandon ourselves. Before we change, cintailah diri sendiri dulu, so that perubahan yang akan kitani buat atu memang ngam sudah dengan diri tani and In shaa Allah, lekat dengan kitani. Changing for real, not for fake… *ngeh, apa kebenda yang aku repekkan ni haaaa??*

“The art of knowing is
knowing what to ignore.” – Rumi

Yup, kitani tau they are talking behind us, kitani tau durang set expectations on us, but tilik and nilailah mana satu to ignore and mana satu to take into consideration. This is a trial and error basis kind of thing. In shaa Allah, we will eventually know how to endure people’s expectation. Just noting to ourselves as well, never give high expectation onto something. Set our expectation to Allah! Cause He can give us anything beyond our imaginations. Isn’t He sweet? Benda yg impossibru for us is possible for Him, so why fear asking from Him? Don’t be arrogant to Him, Astaghfirullahal’adzhiim. Ask from Him anything, kan Dia Maha Mendengar and He is Al-Mujiib (The Granter of Du’aa). Senyum~~

RrJ