بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Assalamualai'kum WaRahmatullahi WaBarakatuh.
Gambar hiasan aje~ Sebenarnya blogger kan menampalkan puisi pulang saja, Hahaha. So sebagai intro, describing gambar sajalah aaa... *mabuk darat usulnya, blogger ani* Hahahaha. Bunga di atas berwarna putih, anther and stigma nya pula berada di tengah-tengah and berwarna jingga seakan-akan warna kuning. Daunnya pulaa..... bla bla bla... *merepek*
Laju gerakan tapak kaki ini,
seakan mengerti akan malapnya sang kalbu,
berhenti bukanlah satu pilihan..
yang dia tahu,
yang dia hendak,
cuma laju pergi laju...
Tersentak dedaun pintu dek hentaman tangan ini,
menghurai maksud bicara sang kalbu,
menghubung bahasanya dengan titisan hangat,
membasahi bumi,
membasahi angkasaraya,
merebahkan lutut ke tanah,
untuk merayu dan terus merayu...
Memujuknya,
disangka dengan kata semanis gula Melaka,
disangka dengan timbunan emas permata,
disangka dengan ribut wang berjuta,
disangka dengan janji membelah Lautan India,
silapnya, kerana dia bukan seorang hamba..
bukan hamba dunia!
Kadang-kadang aku hairan,
selalu ku termenung...
bukankah kerlipan bintang-bintang itu terang warnanya?
mampukah jiwa yang rendah menggapai tingginya jauh di hujung semesta?
bukankah silaunya menerangi gelapnya dunia?
mampukah kulit senipis ini memegang kehangatan apinya?
Eh, tunggu seketika... kerana aku lupa,
Sang Bulan yang dekat dipelukkan rasa,
Sang Bulan yang membawa damai di jiwa,
Sang Bulan yang sering ada walau selalu bertukar warna.
Ku marah pada waktu,
Ku marah pada jarak,
Ku teriak pada rasa yang lantang membisu,
Ku teriak pada akal yang kononnya tahu,
Tapi dalam sedarku pada jarak itu bukan lah kejauhan,
waktu itu bukan pertukaran haribulan,
Mereka cuma benteng... benteng yang ku percaya menyatukan...
benteng yang ku takutkan akan memisahkan.
Berkibaran pokok-pokok melepaskan daun-daun yang kering kontang,
beterbangan hingga jatuh ke tanah,
bunyinya sepi, bunyinya halus,
tapi siksanya parah kerana sudah dilupa...
Aku berdiri merenung tangisnya,
"Ah~ sudah... kau tahu, sang bumi memerlukan mu.
Tak usah kau damba pada ranting yang melepasmu,
tak usah kau kembali pada yang tidak menghargaimu.
Tidak perlu... kerana kau lebih berharga dari mutiara,
dan fitrah mu tenggelam bersatu dengan sang bumi...
Kau akan bergembira sekejap lagi!"
Ku terpesona pada kemerahan si mawar,
Ku terlihat anggun gayanya membuat orang terpana,
Ah... Aku ingin jadi sepertinya,
menambat hati manusia yang memerhati,
akan sopannya, akan santunnya, akan cantiknya...
walhal aku tumbuh sebagai kaktus,
penuh duri tajam, menakutkan manusia untuk menyentuhku,
hijau terang gagah berani ku berdiri,
tapi terbiar ku melihat seorang demi seorang pergi...
Sekian kisah species yang blogger huraikan pada hari ani, di harap dapat membantu abiskita untuk men-describe other new species kalau terjumpa di perkarangan rumah mahupun di lereng-lereng bukit Shahbandar. *merapu inda sudahnya*
RrJ




